<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2412436116596128464</id><updated>2011-04-22T07:02:17.907+07:00</updated><title type='text'>CATATAN SOCRATES</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://catatansocrates.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatansocrates.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>catatan socrates</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984925018863459440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Kp24AOEgYa4/SKTwO-xHDdI/AAAAAAAAAAg/rAjwEV8Y37I/S220/romo+agung.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2412436116596128464.post-4782129610111602830</id><published>2008-08-22T09:07:00.003+07:00</published><updated>2008-08-22T09:18:46.442+07:00</updated><title type='text'>MUNAFIK</title><content type='html'>“saya tidak munafik!” demikian kalimat diplomatis, setiap kali seorang celebrities ditanya persoalannya berkaitan dengan isu-isu moral seperti keterlibatan pada narkoba, perliku sex bebas sampai pada relasi sejenis. Kalimat kamuflatif ini begitu ampuh untuk menyembunyikan sesuatu sekaligus untuk membuat pembenaran atas ketidakbenaran yang dilakukan. Kalimat ini juga bisa berarti, “hei , aku tidak sendirian, yang lain juga begitu”. Dari segi bisnis, kalimat ini amat menguntungkan karena tidak akan merugikan pencitraan yang sangat penting dalam dunia komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan tahun lalu ada seorang guru yang sabar, lemah lembut, tapi begitu melihat kemunafikan, beliau dengan keras memberi suara peringatan “ Woe to you hypocrites”. Kata ini tidak dimaksud oleh guru itu sebagai legitimasi atas ketidakbenaran. “Celakalah engkau wahai munafik” dimaksud supaya setiap orang justru mengupayakan kebenaran khususnya mereka yang Tahu akan kebenaran itu. Kalau saya tahu bahwa suatu tindakan adalah tidak benar (karena alasan moral, agama, atau kesehatan) maka pengetahuan saya mesti tertuang dalam sebuah tindakan. Kejijikan perbuatan munafik terutama yang dilakukan para public figure, tidak terletak pada perbuatannya yang merugikan diri sendiri, tapi pada dampaknya bagi public. Khususnya bagi public yang belum tahu apa-apa (baca: anak-anak dan mereka yang tidak terbiasa berpikir kritis). Tak heran kalau kriminalitas dan kelainan jiwa sekarang sudah dimulai dari yang (masih) kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak yang lain, munculnya krisis kepercayaan di kalangan publik kebanyakan. Kalau yang “di atas” saja begitu, kenapa kami yang “di bawah” tidak boleh ? atau.. ah kami khan yang di bawah ikut-ikutan aja sama yang di atas, yang kami lakukan tidak seberapa dibanding yang di atas sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalimat “saya tidak munafik” mesti dilepaskan dengan sangat hati-hati dan dimaknai seperti ini: saya tahu (mau dan sadar) itu tidak benar , dan saya tidak akan melakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah kenapa kita berharap lebih pada celebrities dimana pencitraan diri lebih penting daripada masa depan dan peradaban public. Jadi mari kita mulai saja dari diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;upokrita ekbale, prwton thn dokon ek tou ofqalmou sou kai tote diableyeiV ekbalein to karfoV ek tou ofqalmou tou adelfou sou &lt;/em&gt;(baca: Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2412436116596128464-4782129610111602830?l=catatansocrates.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatansocrates.blogspot.com/feeds/4782129610111602830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2412436116596128464&amp;postID=4782129610111602830' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/4782129610111602830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/4782129610111602830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatansocrates.blogspot.com/2008/08/munafik.html' title='MUNAFIK'/><author><name>catatan socrates</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984925018863459440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Kp24AOEgYa4/SKTwO-xHDdI/AAAAAAAAAAg/rAjwEV8Y37I/S220/romo+agung.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2412436116596128464.post-4078716305488811092</id><published>2008-08-22T08:30:00.002+07:00</published><updated>2008-08-22T08:47:01.694+07:00</updated><title type='text'>TERJEBAK</title><content type='html'>Dulu, kata porong sering diidentikan dengan gila. Karena disana terdapat rumah sakit gila. Tapi sekarang Porong lebih terkenal di seluruh dunia dengan Lusinya. Kehadiran "Lusi" yang paling menjengkelkan bukan hanya masyarakat Porong tetapi arek-arek Jatim pada umumnya adalah kemacetan yang sering unpredictable. "Terjebak" barangkali  adalah istilah yang pas untuk melukiskan situasi yang tidak mengenakkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjebak memang pengalaman yang menjengkelkan, apalagi setelah kita sadar, bahwa semuanya karena ketidakcerdasan kita sendiri. Tapi ada yang lebih memalukan lagi, ternyata kita memang sejak awal telah terjebak dalam dan karena epistemology kita sendiri. Simpton psikologis yang muncul karena keterjebakkan itu, seperti marah, jengkel, malu, hanyalah &lt;em&gt;chasing&lt;/em&gt; luar aja. Bawah sadarnya, prosesor dalam benak kitalah yang telah kejebak. Dan orang yang paling bertanggungjawab atas keterjebakkanku tidak lain adalah diriku sendiri. Ketika aku membiarkan diriku diselimuti kemarahan atas perilaku orang lain .. &lt;em&gt;I was trapped!&lt;/em&gt;. Manakala aku membiarkan diriku (dan perasaanku) dideterminis oleh labeling-labeling dan judgmental tanpa refleksi kritis, aku telah terjebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku membiarkan originalitas pemikiranku terkontaminasi oleh isme, ideology, mahzab, aliran tertentu, &lt;em&gt;than I was trapped too&lt;/em&gt;. Ketika aku tidak lagi bisa menjadi tuan atas semua gejala dan gejolak psikologik yang enlightment maupun yang traumatic, dalam hatiku, aku pun sudah kejebak. Jebakan-jebakan ini sulit dihindari, mulai dari orang-orang sekaliber FPI, Muhdi dan Suryani, bahkan para petinggi BI. Mungkin yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir efeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bagaimana caranya?”Dengarkan suara peringatan bahkan jika hanya berbunyi “Guk Guk.”. Kita toh bukan kafilah dan tidak harus jadi kafilah, jadi, berhentilah jangan berlalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2412436116596128464-4078716305488811092?l=catatansocrates.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatansocrates.blogspot.com/feeds/4078716305488811092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2412436116596128464&amp;postID=4078716305488811092' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/4078716305488811092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/4078716305488811092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatansocrates.blogspot.com/2008/08/terjebak.html' title='TERJEBAK'/><author><name>catatan socrates</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984925018863459440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Kp24AOEgYa4/SKTwO-xHDdI/AAAAAAAAAAg/rAjwEV8Y37I/S220/romo+agung.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2412436116596128464.post-5587130674369794044</id><published>2008-08-21T09:09:00.000+07:00</published><updated>2008-08-21T09:12:28.863+07:00</updated><title type='text'>AUTISME</title><content type='html'>Pengakuan Condro memang menjadi sesuatu yang sensasionil dan mengejutkan. Namun keterkejutan kita akan drama ini pasti tidak akan lama dan menggangu jantung kita. Seperti halnya tiba-tiba kita dikejutkan dengan kata ciluk ba oleh orang yang kita kenal. Kaget lalu kita tertawa bersama. Kita akan lebih terbahak jika kita membayangkan apa yang akan kita dapati pada akhirnya. Semudah kita menebak alur cerita dalam sinetron –sinnetro. Pada akhirnya akan selalu happy ending. Pada akhirnya dewi fortuna pun dipaksa memihak pada sebuah kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba jadi terpikir, jangan-jangan sebagai bangsa kita memang sedang mengidap penyakit autisme massal. Semua orang seolah-olah sibuk dengan dunia dan kepentingannya sendiri. Dan lalu budaya kepekaan sosial menjadi sesuatu yang tidak lebih dari sebuah kesopanan semu. Seandainya Nietzche masih hidup, dia pasti akan berteriak-teriak menyaksikan kemunafikan semacam ini.Munafik atau tidak, barangkali bukan masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan menjadi autis agaknya menjadi sisi gelap dari mahkluk multidimensi yang dinamakan manusia ini. Di sinilah akar dari munculnya berbagai bentuk persoalan personal maupun sosial di dunia yang pernuh warna-warni ini. Ironis memang, ketika manusia bertanya apa tujuan hidup ini, hampir 80 persen akan mencari jawabannya pada yang diatas (baik dengan menunjuk atau pun malu-malu melihat ke atas), namun dalam kenyataan, autisme sepertinya lebih menjadi pilihan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski 400 tahun lalu Descartes menegaskan bahwa substansi yang utama adalah Tuhan dan I. Kant mengingatkan kita bahwa perbuatan adalah baik jika dilakukan karena wajib dilakukan, namun agaknya manusia tidak pernah mencari hikmat dari kesalahannya dan seringkali teralu bangga dengan diri sendiri . Kita lupa bahwa setiap kita punya potensi menjadi seperti Achiles. Chinese Way yang ke 17 mengingatkan kita akan akan hal yang penting yakni Respect for self; Respect for others; Responsibility for all your actions&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2412436116596128464-5587130674369794044?l=catatansocrates.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatansocrates.blogspot.com/feeds/5587130674369794044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2412436116596128464&amp;postID=5587130674369794044' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/5587130674369794044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/5587130674369794044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatansocrates.blogspot.com/2008/08/autisme.html' title='AUTISME'/><author><name>catatan socrates</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984925018863459440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Kp24AOEgYa4/SKTwO-xHDdI/AAAAAAAAAAg/rAjwEV8Y37I/S220/romo+agung.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2412436116596128464.post-2809655845276426975</id><published>2008-08-20T09:13:00.002+07:00</published><updated>2008-08-20T12:00:50.296+07:00</updated><title type='text'>RYAN</title><content type='html'>Sejarah memang selalu terulang. Namun negri ini memiliki keistimewaan. Pengulangan sejarahnya terjadi begitu cepat, sampai kita tak cukup waktu untuk belajar darinya. Yang lebih istimewa, sejarah yang kerap terulang adalah sejarah yang kelam , yakni kekerasan. Segala ranah di negri ini seakan tidak bisa dilepaskan dari kekerasan. Barangkali kalau mau ditelisik dari semiologinya, semua kata bahasa negri ini harus bisa diasosiasikan dengan kekerasan. Tidak perlu kita memiliki daya ingat yang begitu tajam untuk menyebut satu persatu kronologi kekerasan negri ini. Mulai dari rumah tangga, agama, politik, pendidikan .. ah Capek dehhh . Dan yang amat memprihatikan kekerasan ini dimulai dari (sesuatu) yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bangsa ini perlu bertanya kenapa ya kita kog jadi gini. Mana keramah-tamahan dan budi luhur bangsa yang didengang-dengungkan dalam pelajaran sejarah puluhan tahun lalu? Jangan –jangan sebagai bangsa kepribadian kita (dalam bawah sadar) sudah terjangkit multiple personal disorder yang epidemic. Mungkinkah semua ini lantaran bangsa ini sudah cukup lama berteman dengan stress akibat multi krisis yang tiada henti? Jangan-jangan tengara mengenai Lucifer`effect sudah menjadi begitu massive di negri ini. Karenanya, begitu mendapat kuasa, seseorang (atau sekelompok) (atas nama, agama, emosi, egoism, sectarian, kelalaian, jabatan, etc) mendapat legitimasi untuk melakukan kekerasan tanpa si korban sempat berpikir tentang pasal 38 &amp;amp;39 KUHP. Apakah sajian TV yang kerap menyuguhkan gambar-gambar berdarah, penyebabnya?, apakah merah-putih bukan warna kepribadian bangsa ini? Ataukah 17 agustus bukanlah lucky number? pertanyaan-pertanyaan konyol ini muncul, lantaran segala analisis ilmiah, akademik, dan rasional nyatanya tak mampu memotivasi bangsa ini untuk menghentikan segala bentuk kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesimisme semacam ini pasti amat kontraproduktif menurut the law of attraction. Kita tetap harus berpikir positf bahwa bangsa ini adalah bangsa yang sopan santun. Bangsa yang suatu saat menghapus segala aturan berkenaan dengan SKKB. Kita tidak boleh berpikir bahwa bangsa ini adalah kriminal yang tengah mengidap kelainan jiwa. Kita harus tetap &lt;em&gt;make a move&lt;/em&gt; bagi bangsa ini. Kalau tidak, pelan-pelan kita menghayati budaya hara-kiri (baca: bunuh diri) bukan karena kehormatan, tapi karena ketidakcerdasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya the law of attraction masih berbau kapitalis-materialias, sementara negasi kekerasan ada di ranah merah hitam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2412436116596128464-2809655845276426975?l=catatansocrates.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatansocrates.blogspot.com/feeds/2809655845276426975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2412436116596128464&amp;postID=2809655845276426975' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/2809655845276426975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/2809655845276426975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatansocrates.blogspot.com/2008/08/ryan.html' title='RYAN'/><author><name>catatan socrates</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984925018863459440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Kp24AOEgYa4/SKTwO-xHDdI/AAAAAAAAAAg/rAjwEV8Y37I/S220/romo+agung.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2412436116596128464.post-2782150208783847635</id><published>2008-08-19T16:14:00.003+07:00</published><updated>2008-08-19T16:25:51.662+07:00</updated><title type='text'>THE LAW OF ATTACHMENT</title><content type='html'>Meski sepintas fonetiknya mirip, tapi the law of attachment bukanlah sequel dari the &lt;em&gt;law of attractionnya&lt;/em&gt; the Secret, kaitannya sedikitpun tidak. Meskipun barangkali semiologinya menghasilkan Sign yang kurang lebih sama. The law of attachtmet adalah peringatan para bijak untuk selalu waspada terhadap segala kelekatan kepada apapun yang di luar pribadi manusia. Hukum ini mengajarkan, kalau manusia telah terlekat pada sesuatu, maka hampir dipastikan dirinya ( keseluruhan daya cipta, karya, karsa) sadar maupun bawah sadar akan terserap oleh apa yang dilekatinya. Symptom psikologis yang paling kentara dari seseorang yang telah tereduksir oleh kelekatannya adalah munculnya berbagai gejala psikosis maupun psikosomatis manakala sesuatu itu tidak lagi menjadi sumber bahagianya. Kalau seseorang penyuka warna hitam menjadi begitu gelisah karena barang dengan warna kesukaannya tidak didapat, bisa menjadi tanda-tanda awali yang perlu diwaspadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya manusia lah yang menguasai sesuatu, namun keterlekatan, menjadikan sebaliknya: Sesuatu telah menginvasi dan mengontrol hidup seseorang. Celakanya sesuatu itu tidak hanya materi bahkan yang rohani pun bisa menjadi wujud sesuatu itu. Karena itu adalah mengherankan kalau ada orang mengaku Agamawan, tetapi kegelisahan dan kebahagiaan hidupnya diinvasi suatu yang amat materi (uang, sanjungan, popularitas) padahal seorang nabi pernah berkata orang tidak bisa mengabdi sekaligus kepada Tuhan dan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali di sinilah akar dari munculnya &lt;em&gt;multiple personality Disorder&lt;/em&gt;. Sesuatu yang menyerap itu menjadikan manusia tidak lagi menjadi pribadi utuh dan berkesadaran penuh. Peribadinya lalu menjadi berwujud sesuai keterlekatan yang saat itu menyerapnya. Manusia semacam ini pastilah berteman dengan stress. Dalam tingkat yang parah , bisa dikatagorikan kelainan jiwa stadium awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya AKU harus menjadi Tuan atas warna-warna kesukaanku. Akulah yang menentukan angka-angka itu menjadi sesuatu yang bad or luck. Akulah yang mengendalikan challange-challenge dalam hidupku. Aku juga yang seharusnya yakin bahwa aku baik an sich, dan bukan berdasarkan SKKB. Aku lah sejatinya yang memanipulasi hasrat-hasratku entah yang liar seperti keinginan menikmati gambar-gambar berdarah atau bunuh diri atau hasrat luhur seperti diam saja atau make a move. Tapi bagaimana caranya menjadi AKU yang adalah Tuan? Kalau ternyata sikap sopan-santunku, atau strategi pelayananku semata-mata dimotivasi oleh semangat konsumerisme, tuntutan pasar, tren mode dan lalu kemudian dimahkotai oleh spiritualitas follow your bliss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ada apa dengan aku?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2412436116596128464-2782150208783847635?l=catatansocrates.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatansocrates.blogspot.com/feeds/2782150208783847635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2412436116596128464&amp;postID=2782150208783847635' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/2782150208783847635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/2782150208783847635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatansocrates.blogspot.com/2008/08/law-of-attachement.html' title='THE LAW OF ATTACHMENT'/><author><name>catatan socrates</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984925018863459440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Kp24AOEgYa4/SKTwO-xHDdI/AAAAAAAAAAg/rAjwEV8Y37I/S220/romo+agung.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2412436116596128464.post-8354851554322412583</id><published>2008-08-17T10:26:00.000+07:00</published><updated>2008-08-17T10:45:03.621+07:00</updated><title type='text'>PAHLAWAN</title><content type='html'>Pahlawan. Hari ini barangkali kata ini yang terlintas dalam benak bangsa Indonesia. Kata ini mungkin semiontiknya membuat kita berpikir tentang sebuah keberanian, pengorbanan, keteguhan, bercampur dengan kehebatan, kekonyolan, mungkin juga kebodohan, tergantung dalam persepktif mana kita memandang. Barangkali tidak banyak diantara kita ( angkatan dark's Knight) punya ingetan tajem atau berempati pada generasi angkatan 45 untuk merayakan hari ini sebagai harinya para pejuang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dimengerti. Hari gini, rasanya agak gamang kalau berbicara tentang pahlawan dengan segala pemaknaannya, apalagi dalam konteks Indonesia. Menjadi pahlawan mungkin menjadi pilihan yang terakhir ditengah tawaran-tawaran yang lebih menggiurkan. Untuk apa jadi pahlawan ? Mungkin pertanyaan inipun tidak ternah terlintas dalam pikiran. Atau mungkin tak ada seorang pun ingin dengan sadar (berdasarkan discernment yang tegas) mau menjadi pahlawan. Bahkan pahlawan sejati barangkali tak pernah berpikir kelak dikenal sebagai seorang pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sepakat bahwa kata pahlawan boleh diasosiasikan dengan keberanian dan pengorbanan serta keteguhan, maka agaknya pahlawan setidaknya pernah menjadi salah satu isi keinginan kita kalau berbicara tentang &lt;em&gt;the law of attraction&lt;/em&gt;. Tinggal meminta dan memvisualisasikan. Apalagi kalau kita yakin &lt;em&gt;effect Lucifer&lt;/em&gt; ternyata makin terbukti di tanah air kita. Di negri ini bukan hanya penjahat yang berkelainan jiwa, pejabatpun sudah sampai tahap kerusakan jiwa. Mungkin benar, telah banyak petinggi kita mengalami MPD &lt;em&gt;(Mulitiple personal Disorder.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana cara kita bisa menjadi pahlawan? Yang jelas tidak perlu SKKB. Juga bukan dengan latihan menahan diri melihat tumpahan darah, apalagi bersemangat bunuh diri. Mulai saja dari yang kecil dengan berani, teguh dan siap berkorban demi misalnya: berani melawan dan berjuang terhadap segala kecenderungan jahat dalam diri,  bersikap sopan santun dalam penawaran and berani menentang perhitungan apapun yang didasarkan bad atau luck number. Berani menentang reduksionisme gender berdasarkan warna. Dan yang penting, dengan motivasi yang teguh berani membuat suatu gerakan, serta selalu berani mempertanyakan ada apa dengan diriku ketika sikap kepahlawan tak pernah terbersit dalam hidupku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2412436116596128464-8354851554322412583?l=catatansocrates.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatansocrates.blogspot.com/feeds/8354851554322412583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2412436116596128464&amp;postID=8354851554322412583' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/8354851554322412583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/8354851554322412583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatansocrates.blogspot.com/2008/08/pejuang.html' title='PAHLAWAN'/><author><name>catatan socrates</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984925018863459440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Kp24AOEgYa4/SKTwO-xHDdI/AAAAAAAAAAg/rAjwEV8Y37I/S220/romo+agung.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2412436116596128464.post-4198649153641199062</id><published>2008-08-16T12:59:00.000+07:00</published><updated>2008-08-16T13:06:42.947+07:00</updated><title type='text'>KOMPETISI</title><content type='html'>Saya agak ragu kalau globalisasi menjadi faktor yang berpengaruh dalam agresi remaja dewasa ini. Tapi kalau globalisasi, memperbesar gairah manusia untuk kompetisi, saya setuju sekali. Baik kompetisi dalam pengertian obyektif-profesional maupun kompetisi dalam arti subyektiv dan bersemangat terorris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kompetisi adalah tetap sebuah persaingan kendati terbungkus dalam suatu budaya yang sarat dengan nilai-nilai kesopananan dan religi. Dan dalam hal ini semangat “homo homini lupus” tetap relevan dan diminati. Karena itu, menarik untuk melihat kondisi psikologis para audit talented reality show di tv-tv, ketika mendengar pengumuman bahwa mereka tidak termasuk atau setidaknya belum tereliminasi. Saya kira tangisan mereka sukar untuk diartikan maksudnya. Atau sedih karena harus berpisah dengan rekan mereka atau senang karena toh masih selamat dari elminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kompetisi mempemainkan psikologi manusia dan membuat kita menjadi stress serta sedikit schisopreni. Yang lebih membuat geli kompetisi juga bisa membuat seorang kehilangan akal budi. Lalu mulai percaya pada jampi jampi seperti orang yang pecaya ada hubungan antara nama dan seks. Tetapi yang paling keji dari sebuah kompetisi adalah hilangnya hati nurani dan harga diri. Sehingga seorang caleg bisa tetap berbangga dengan diri sendiri meski dengan modal ijasah palsu dan masa lalu yang penuh kebusukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ketika kompetisi merambah ranah politik dan kekuasaan ia akan menemukan jodohnya pada pemikiran si kumis Nietzsche dalam buku the &lt;em&gt;Will to power&lt;/em&gt; (kehendak untuk berkuasa) dan bisa dibayangkan kegilaan yang terjadi. Barangkali cita-cita Immanuel Kant akan kemanusian yang sampai pada persaudaraan dan perdamaian abadi hanya akan dialami manusia saat kematian datang menjemput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merenungi semangat kompetisi, saya jadi skeptis ketika membaca 21 Chinese Ways , jalan pertama : &lt;em&gt;Give people more than they expect and do it cheerfully&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2412436116596128464-4198649153641199062?l=catatansocrates.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatansocrates.blogspot.com/feeds/4198649153641199062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2412436116596128464&amp;postID=4198649153641199062' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/4198649153641199062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/4198649153641199062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatansocrates.blogspot.com/2008/08/saya-agak-ragu-kalau-globalisasi.html' title='KOMPETISI'/><author><name>catatan socrates</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984925018863459440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Kp24AOEgYa4/SKTwO-xHDdI/AAAAAAAAAAg/rAjwEV8Y37I/S220/romo+agung.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2412436116596128464.post-4903182919258063728</id><published>2008-08-15T06:23:00.000+07:00</published><updated>2008-08-17T11:36:29.359+07:00</updated><title type='text'>BELAJAR</title><content type='html'>Socrates pernah mengatakan kalimat yang terkenal ini :&lt;em&gt; yang saya tahu dengan pasti adalah bahwa saya tidak tahu apa-apa&lt;/em&gt;. kalimat sederhana ini menjadi kalimat paradox yang sarat kebijkasanaan karena keluar dari mulut seorang socrates (bukan penulis posting ini). Makna kalimat ini menjadi lain ketika keluar dari mulut saya, kalau penulis ditanya tentang apa itu Fisika Quantum. Atau akan menjadi kalimat yang sangat jahat ketika disuarakan oleh Polikarpus ketika ditanya apa kaitannya dengan kematian Munir. Dengan kata-kata itu, tentu saja Socrates tidak sedang gelisah akan perdebatan tentang self esteem atau modest. kalimat ini adalah kalimat falsafati yang mengungkapkan kedalaman hakekat manusia. Dengan kalimat ini Socrates mengingatkan kita bahwa manusia itu adalah falliable atau mahkluk yang berkecenderungan untuk (membuat ke)keliru(an) dan lagi, pada hakekatnya, ada begitu banyak hal yang tidak dimengerti oleh mahkluk yang namanya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba finding the truth between the paradox lines dalam kata-kata ini, terlintas kata Belajar. Sistem &lt;em&gt;docta ignorantia&lt;/em&gt; ala Socrates ini, menarik bagi siapapun yang mau jadi pembelajar. Karena hal itu mengandaikan orang yang belajar, tidak menjadi mandeg dan terus membuka kemungkinan untuk menemukan jawaban yang lebih baik lagi. Barangkali kalau dilihat dalam kacamata topologi kepribadian menurut warna, mereka penyuka warna putih, untuk kerbukaan dan rasionalistinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar yang paling mengasykkan tapi paradoksnya sekaligus paling malas kita lakukan adalah belajar terhadap pengalaman hidup. Luciifer’s effect adalah bukti nyata kemalasan kita untuk belajar dalam hal ini. Demikian juga persoalan stress yang memang bisa menjadi teman, tapi pilihan berteman dengan stress adalah pilihan yang minimalis dalam sebuah pembalajaran terhadap hidup. Barangkali yang paling penting dipikirkan adalah mengapa kita malas belajar dari pengalaman ? atau lebih parah lagi, mengapa kita tidak termotivasi untuk belajar terhadap atau dari suatu pengalaman hidup (diri sendiri maupun orang lain). Jawaban yang bernuansa psikososioantropologik, agaknya kurang memuaskan, karena pasti berputar-putar soal &lt;em&gt;blaming the outside&lt;/em&gt; dan biasanya bias fatalis. Padahal jawabanya mesti dicari dengan semangat looking for the inside, deep deep down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas banyak orang di negri ini, termasuk politisi dan selebriti, tidak (mau) belajar (lagi).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2412436116596128464-4903182919258063728?l=catatansocrates.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatansocrates.blogspot.com/feeds/4903182919258063728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2412436116596128464&amp;postID=4903182919258063728' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/4903182919258063728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2412436116596128464/posts/default/4903182919258063728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatansocrates.blogspot.com/2008/08/memaksakan-kehendak.html' title='BELAJAR'/><author><name>catatan socrates</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984925018863459440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Kp24AOEgYa4/SKTwO-xHDdI/AAAAAAAAAAg/rAjwEV8Y37I/S220/romo+agung.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
